Tampilkan postingan dengan label Potelot Rileks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potelot Rileks. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2020

Ngaji Online: Embrio Pondok Pesantren Virtual

Ngaji Online: Embrio Pondok Pesantren Virtual

Saya pernah merasa khawatir atas masa depan kajian turats (baca: kitab kuning). Kekhawatiran saya dipicu dua hal:

Pertama: pada tahun 2014-an, kajian Islam--khususnya di dunia maya--dipenuhi dengan materi-materi dakwah yang mengusung tema besar "kembali ke [terjemah] Qur'an dan Sunnah". Pada saat itu kajian turats hampir tidak mendapat tempat di ruang maya.

Kedua: di saat yang bersamaan, pesantren salafiyah masih saja terperangkap dalam stigma: kuno; ketinggalan zaman; kemproh, dan alumninya dipandang tidak kompetitif untuk mengambil bagian dalam pembangunan kehidupan berbangsa.

Namun kekhawatiran saya mulai sirna sejak Ramadhan 1438 Hijriyyah. Alasannya: sejak saat itu ngaji kitab kuning mulai diperkenalkan di dunia maya. Kajian turats livestreaming via facebook yang pertama kali saya jumpai adalah: ngaji Ihya'; dibalah oleh Gus Ulil Abshar Abdalla; disiarkan secara langsung Ning Ienas Tsuroiya binti Musthofa Bisri.

Awalnya saya memang tidak terlalu optimis:
1. Apakah pengajian tersebut akan dapat istiqomah seperti pengajian di pesantren?
 2. Apakah generasi millenial tertarik dengan kajian kitab kuning?

Seiring berjalannya waktu optimisme saya semakin menebal. Kenyataan menunjukkan pengajian kitab online tersebut makin hari makin istiqomah dan diminati netizen (santri online), bahkan hingga saat ini (Ramadhan 1441 Hijriyyah). Kitab yang dikaji juga makin beragam: hingga ke Bidayatul Mujtahid dan Al-Munqid min adh-Dholal.

Puncak dari optimisme saya atas cerahnya masa depan kajian turats adalah saat Pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Sejak saat itu, pesantren diakui sebagai penyelenggara pendidikan Nasional. Tentu ini menjadi sebuah garansi bagi kelestarian pengajian turats.

Apakah dengan populernya pengajian kitab kuning dan juga dengan telah adanya garansi konstitusi (aturan perundang-undangan) telah menjamin pengajian turats akan terus digandrungi dan tetap lestari? Belum tentu. Jaman terus melesat. Strategi ke depan perlu disiapkan.

Saya teringat pepatah "al-haqqu bila nidzomin yaghlibuhu al-bathilu binidzomin". Semua bentuk kegiatan baik--termasuk pengajian online, harus terorganisasi dengan baik. Demi eksistensi pengajian itu sendiri.

Saya menyebut pengajian online yang selama ini berjalan barulah sebuah embrio. Embrio idealnya harus terus tumbuh dan berkembang menjadi "wujud kamil"-nya.

Pada nihayah tulisan saya ini membesitkan harapan besar: agar embrio yang telah ada ini dapat diorganisasi dan diejawantahkan menjadi Pondok Pesantren Virtual. "Pondok Pesantren" dikenal sebagai laboratorium kajian Islam terbaik. Sedangkan "Virtual" adalah jawaban atas tuntutan zaman. 

Selain alasan an-nidzom, urgensi pembentukan Pondok Pesantren Virtual tentu juga diilhami dari kebutuhan kejelasan sanad keilmuan, yang merupakan ciri khas Islamic Studies.

Pada Pondok Pesantren Virtual tersebut, Gus Ulil dan Ning Ienas Tsuroiya sebagai muassisnya. Saya dan kawan-kawan lain siap menjadi santri online-nya. Semoga terijabah.

Senin, 21 Desember 2015

MENAGIH JANJI CAPRES;
Meneguhkan Pesantren Sebagai Garda Depan Kontrol Sosial-Politik
Oleh; Kg. Ach. Z. Anam

Delapan Juli 2009 mendatang bukanlah akhir perjalanan demokrasi. Terpilihnya presiden dan wakil presiden yang paling diinginkan rakyat tidak serta merta mengindikasikan keparipurnaan negara dalam menggelar ‘hajat’nya. Permadani sejarah masih terhampar begitu luas untuk mewujudkan Indonesia menuju bangsa demokratis dan mukti wibowo. Bukan pekerjaan mudah, memang. Namun, dengan partisipasi aktif seluruh komponen bangsa, narasi agung itu bukan tidak mungkin terwujud.

TAFSIR KIDUNG LIR-ILIR
(Oleh: Ahmad Z. Anam, M.S.I.)
Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon
Penekna belimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodod iro
Dodod iro, dodod iro
Kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana, jlumatana
Kanggo seba mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak ’a, surak “hiyoo”

Rabu, 26 Maret 2014

Mentee

Pengukuhan Status:
Ketua PA Lantik Sembilan CPNS/Cakim Menjadi PNS/CAKIM PA KAB. Kediri
KEDIRI-Siang itu, Rabu 05 September 2012 pukul 13.00 keluarga besar Pengadilan Agama Kabupaten Kediri menggelar hajatan besar: Pengambilan Sumpah dan Pelantikan masal sembilan CPNS/Cakim menjadi PNS/Cakim. Even langka yang diselenggarakan di Aula PA KAB. Kediri tesebut dipimpin langsung oleh Ketua PA Kab. Kediri, Drs.Mame Sadafal, M.H..  Secara umum, acara tersebut terselenggara dengan khidmad-lancar. Tentu kesuksesan ini tidak terlepas dari peran aktif panitia penyelenggara yang telah mempersiapkannya dengan matang.

Kopi

Blandongan: Membumikan Nilai Luhur Ahlu Sunnah wal Jama’ah[1]
Oleh: Ach. Anam[2]

Blandongan merupakan komunitas yang heterogen. Warung yang memeliki motto “selamatkan anak bangsa dari kekurangan kopi” ini merupakan wadah dan tempat berkumpulnya komponen masyarakat. Siswa—entah yang rajin atau mbolosan, mahasiswa—baik akifis maupun “anak mami-kos”, bisnisman—yang sukses maupun bangkrut, santri—baik yang sami’na wa atha’na maupun sami’na wa ‘ashoina, bahkan pejabat teraspun semuanya tumpleg bleg di warung kopi ini, menikmati  “situasi kopi”.

Tafsir

TAFSIR KIDUNG LIR-ILIR
(Oleh: Ahmad Z. Anam, M.S.I.)
Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon
Penekna belimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodod iro
Dodod iro, dodod iro
Kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana, jlumatana
Kanggo seba mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak ’a, surak “hiyoo”
            Setelah seharian kita melakoni rangkaian estafeta aktifitas panjang yang mungkin membuat kita kita lelah, penat, jenuh dan bahkan tertekan, marilah sejenak kita bersantai. Kita coba menjelajah waktu; bertamasya; berjalan-jalan menilik budaya dan agama 500 tahun silam, yakni zaman kerajaan demak bintoro yang bertepatan dengan berakhirnya kejayaan majapahit. Di sana kita jumpai sebuah kidung religi; buah karya Sunan Kalijogo. Kidung yang nampaknya begitu sederhana, tapi pastinya sarat makna: lir ilir. Sebuah kidung yang sudah sangat akrab di telinga sluruh lapisan masyarakat islam (khusunya Jawa).