Oleh: Ahmad Z. Anam, M.S.I.
dan
“...Tangis
lantangmu membanggakan. Celoteh tak beraturanmu menggemaskan...”
Sekapur Sirih
Nama
Air Langgar KFA itu nyeleneh,
unik, dan tak terjangkau nalar wajar. Itulah beberapa opini publik yang beredar pasca nama itu kami
publikasikan dalam kenduri sepasaran.[3] Bahkan, ada juga yang berpendapat
nama tersebut tidak memenuhi kaidah
estetika. Kami sangat memahami
hal itu: kepala sama berambut, kecerdasan beda.[4] Terlepas dari wacana yang berkembang,
bagi kami dan beberapa sahabat yang mempunyai “pengetahuan linuwih”,
nama Air Langgar KFA adalah nama yang
sangat prestisius; megah; berwibawa.
Goresan
tinta ini mencoba mengelaborasi secara ilmiah atas historisitas dan makna
luhur yang tersurat dan tersirat dalam
nama jagoan kami. Selamat membaca. Semoga mencerahkan.
Semoga menginspirasi.
Historisitas
Jauh sebelum buah hati kami
terlahir di bumi ini, kami telah berdiskusi
panjang terkait penamaan yang terbaik untuknya. Kami sadar penuh, nama adalah do’a, harapan, dan identitas. Nama dapat
merfleksikan sifat, karakter, perilaku dan visi pemilinya. Oleh karena itu,
logis jika Baginda Nabi Muhammad menganjurkan untuk memberikan nama terbaik
bagi maulud (bayi yang baru terlahir).
Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan Abu Darda’ ditegaskan:
إنكم تدعون
يوم القيامة بأسمائكم و أسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم .
Artinya: “Sungguh
kalian akan dipanggil di hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian,
maka perbaguslah
nama kalian.” H.R. Abu Dawud dari Abu Darda’. (Dha’if al- Jami’; 2036).
Meskipun
dalam
kajian ilmu riwayah hadits
ini dha’if, namun hemat kami, hadits ini tetap dapat dijadikan
dasar untuk targhib (motivasi) dalam penamaan seorang anggota baru
dalam
keluarga (baca: bayi).
Selain
hujjah tersebut, dalil untuk memberikan
nama yang baik
untuk anak juga dapat dirujukkan pada hadits shahih yang bersifat umum sebagai
berikut:
إن الله تعالى كتب الإحسان على كل شيء ….
Artinya: “Sungguh Allah
Ta’ala mewajibkan memperbagus
dalam segala sesuatu… ” H.R. Muslim dan Imam Empat.
Berdasarkan pertimbangan hukum
di atas, kami tidak akan sembrono dalam menyematkan sebuah nama untuk
putera kami. Untuk itu, kami harus “berijtihad” demi mendapatkan nama terbaik.
Air langgar KFA, adalah sebuah nama
final yang kami pilih. Redaksi Air Langgar terinspirasi dari statemen seorang
alumni pesantren yang menjadi guru besar dan negarawan berpengaruh di negara
ini, Prof. Dr. Mahfud MD. Beliau adalah Ketua Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia. Statemen itu muncul saat beberapa pihak dari Universitas Islam Indonesia
dan Universitas Gadjahmada saling berebut klaim terkait universitas mana yang
paling berhak diklaim sebagai almamater Prof. Dr. Mahfud MD. Tak heran, karena
ketokohannya, kedua institusi tersebut
saling berebut pengakuan sebagai tempat beliau menimba ilmu.
Menanggapi polemik tersebut di atas,
dengan tenang dan santai, Prof. Mahfud MD menjawab, “Saya adalah alumni Air
Langgar”. Tentu semua pihak yang hadir di forum
itu bertanya-tanya, Universitas mana Air Langgar itu? Beliau menjawab, “Air
langgar adalah pesantren yang dikelilingi air nan jernih”.[5] Inilah embrio nama Air
Langgar.
Sedangkan KFA (Khalifatullah Fi Al-ardh), ide tersebut
terlahir saat saya mengikuti ESQ (Emotional and Spiritual Quotion) 165 pada DIKLAT II Program Pendidikan dan Pelatihan
Calon Hakim Terpadu Republik Indonesia (2011). Teringat jelas, saat itu,
seorang trainer melontarkan pertanyaan kepada saya: sebuah pertanyaan
filosofis, “Siapa Anda?”. Setelah seolah ada bisikan lembut di telinga saya,
spontan saya menjawab, “Khalifatullah Fi Al-Ardh”. Trainer tersebut kemudian
mengangguk-membenarkan. Saya terkesan, entah atas apa, mungkin atas bisikan
lembut itu. Hingga saya beri’tikad untuk mengabadikan Khalifatullah Fi al-Ardh
sebagai sebuah nama.
Unsur Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan
Nama adalah identitas jati diri.
Oleh sebab itu, sedapat mungkin kami berupaya menuangkan identitas yang
komperehensif dalam redaksi nama. Ada dua identitas pokok yang menyertai saat
anak kami lahir: Islam dan Indonesia.
Pertama: identitas Indonesia. Untuk
menunjukkan identitas dalam konteks ke-Indonesiaan itu, kami memilih redaksi
Air Langgar: terdiri dari dua kata yang berbahasa Indonesia. Hal tersebut kami
maksudkan agar anak kami menghormati dan menjunjung tinggi kearifan lokal (local wisdom), memiliki nasionalisme
tinggi, serta bangga menjadi Orang Indonesi (OI)—meminjam istilah Iwan Fals.
Kedua: identitas Islam. KFA
(Khalifatullah Fi Al-ardh) yang bermakna Khalifah Allah di bumi, terdiri dari
bahasa Qur’an (baca: Arab), kata inilah yang merfleksikan identitas ke-Islaman.
Harapan kami semoga identitas ini tetap melekat pada jiwa anak kami hingga
akhir hayat.
Makna
Air
Air adalah sumber kehidupan. Semua
teori tidak membantah adagium ini. Tak
dapat dipungkiri, seluruh kehidupan di bumi ini dihidupkan oleh Allah dengan
perantara air. Selanjutnya, untuk menjaga keberlangsungan kehidupan itu sendiri,
Allah juga menggunakan washilah (media)
air.[6] Artinya, air sangatlah
dibutuhkan untuk penciptaan dan keberlangsungan kehidupan. Al-Qur’an dalam Surat al-Anbiya’ (30)
menegaskan:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ
شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya: “Dan Kami jadikan dari air segala
sesuatu yang hidup, apakah mereka beriman? “
Air
(tirta) juga dugunakan sebagai satu diantara lima lambang hakim. Bahkan,
lambang air diposisikan sebagai pondasi (dasar) dari keempat lambang lainnya.
Hal tersebut dimaksudkan agar seluruh Hakim Indonesia berasas jiwa air. Air
dalam konteks ini dimaknai sebagai kejujuran, kejernihan, dan sebagai media
yang membersihkan (mensucikan).[7]
Dengan tabarruk
(mengharap berkah) dari peran air bagi kehidupan ini, kami sangat berharap agar
kelak anak kami laksana air: sangat dibutuhkan oleh kehidupan, jujur, jernih,
dan “mensucikan”. Semoga.
Makna Langgar
Menurut definisi
wikipedia, Langgar merupakan sebuah kota di Kedah, Malaysia. Kota tersebut terletak diantara Pokok Sena dan Bandar Alor Setar. Kota Langgar merupakan pusat pemerintahan Sultan Abdullah Muazam Syah
(1706). Hal istimewa dari Kota Langgar adalah: ia merupakan pusat kajian Islam
bersistem pondok [Pesantren] pertama di tanah Melayu.
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, langgar
didefinisikan sebagai tempat sembahyang dan
mengaji. Artinya, langgar adalah wahana peribadatan sekaligus
keilmuan. Sungguh, ini adalah tempat yang mulia.
Langgar merupakan
masjid kecil[8]
atau juga sering diartikan sebagai mushola. Redaksi langgar dewasa ini (khususnya
dalam di Jawa) sudah tidak sepopuler dulu. Saat ini orang lebih
cenderung menggunakan istilah mushola.
Hemat kami, ada keistimewaan
langgar dibanding tempat peridabatan lainnya. Langgar
biasanya adalah sarana peribadatan yang dibangun pada tempo dulu, oleh salaf
ash-shalih dengan bergotong-royong
bersama umat, dengan penuh keikhlasan, lillahi
ta’ala, dan jauh dari
unsur politis. Tidak seperti beberapa kasus saat ini,
tempat peribadatan dibangun oleh politikus yang berorientasi mendulang suara
rakyat demi elektabilitas Pemilu. Atau, ada juga yang membangun sarana
peribadatan atas dasar persaingan gengsi antar aliran keagamaan, ataupun persaingan gengsi antar kampung.
Na’uzubillah.
Dengan ngalap berkah nama
Langgar, besar harapan kami agar jagoan kami kelak berjiwa langgar: tulus-ikhlas mengngabdi
pada ilahi rabby. Inialah idealitas yang kami dambakan. Semoga.
Makna
KFA (Khalifatullah Fi Al-Ardh)
Gema
peran manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah telah membahana sejak Allah
menegaskan titah tersebut dalam al-Qur’an surat al-Baqarah (30):
وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ
إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ
فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ
قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ“
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. “Mereka berkata,
Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di
sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? “Dia
berfirman, “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)
Visi Allah
menciptakan manusia adalah untuk menjadikannya khalifah di muka bumi ini.
Fungsi khalifah tidak lain adalah mengelola alam semesta dan memanfaatkannya
demi kemashlahatan dan demi rahmatan
lil ‘alamin. Pengelolaan ini sebagai kawal agar segala sesuatu yang telah
diciptakan Allah tetap berada dalam koridor sunnatullah.
Ghayah
(tujuan) kami dari penamaan KFA ini
adalah supaya buah hati kami kelak benar-benar
mampu menjalankan peran yang telah digariskan Allah sebagai khlifah-Nya di bumi
ini. Kongkritnya: membumikan nilai Islam sebagai rahmat semesta alam. semoga.
Nama
Panggilan (Laqab)
Urusan inilah yang sempat membuat kami pusing tujuh keliling karena perdebatan
panjang yang tak kunjung usai: pemilihan nama
panggilan. Kami berusaha menyepakati satu nama
panggilan untuk anak kami, namun tetap saja: tak ada kata mufakat.
Akhirnya,
mengingat Undang-Undang Dasar 1945, yang menjamin kemerdekaan mengeluarkan
pikiran dengan lisan, tulisan dan sebagainya, maka kami putuskan: kami sepakat
untuk tidak sepakat. Ahmad Z. Anam
mendeklarasikan panggilan Air Langgar KFA dengan sebutan “Air”, sementara Arina
H. bersikukuh mempertahankan panggilan “ALKA”. Ini lah perbedaan yang bernilai
rahmat. Inilah keindahan.
Tak
seperti yang kami duga, ternyata di kalangan eksternal juga muncul berbagai varian
panggilan untuk anak kami. Ada yang menyebut Anggar, Akla, Lang, Langgar, AL,
dan lain sebagainya. Terima kasih atas sumbang-saran panggilannya.
Penutup
Sederhana saja
penutup dari artikel ini: semoga jagoan kami Air Langgar KFA menjadi pribadi
yang berjiwa Air, berhati Langgar, dan berperan baik dalam menjalankan
fungsinya sebagai Khalifatullah fi
Al-Ardh. Taqabblallah minna wa minkum. Amien.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an.
Al-Maktabah Asy-Syamilah
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
tahun 1945
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Masaru Emoto, The
true Power of Water, (MQS Publising, 2006).
MateriKode Etik dan Perilaku Hakim, Badan Litbang Diklat
Kumdil Mahkamah Agung RI, 2012.
[1] Opini ini ditulis untuk mendeskripsikan rasionalitas penamaan anak
pertama kami:
Air Langgar KFA, lahir pada hari Sabtu, tanggal 11 Mei 2013.
[3] Sepasaran dalam tradisi Masyarakat Jawa adalah kenduri dalam rangka
tasyakuran lima hari (sepasar)pasca
kelahiran, sekaligus pelaksanaan ritual tasmiyah (penamaan).
[4] Dalam pepatah
Arab dikenal istilah likulli ra’sin
ra’yun; setiap kepala memiliki pendapat (berbeda).
[5] http://news.detik.com/read/2011/05/25/092945/1646371/103/mahfud-md-lebih-senang-disebut-alumni-airlanggar
[6] Detail fungsi
dan keajaiban air dibahas dalam buku Masaru Emoto, The true Power of Water, (MQS Publising, 2006).
[7] Lambang hakim terdiri
dari cakra, candra, sari, kartika, dan tirta (air). Baca: Materi Kode Etik dan
Perilaku Hakim, Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI, 2012, hlm. 7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar