Kamis, 07 Agustus 2014

Air Langgar KFA

MENGAPA “AIR LANGGAR KFA”?[1]
Oleh: Ahmad Z. Anam, M.S.I.
dan
 Arina H., A.Md.[2]


“...Tangis lantangmu membanggakan. Celoteh tak beraturanmu menggemaskan...

Sekapur Sirih
            Nama Air Langgar KFA itu nyeleneh, unik, dan tak terjangkau nalar wajar. Itulah beberapa opini publik yang beredar pasca nama itu kami publikasikan dalam kenduri sepasaran.[3] Bahkan, ada juga yang berpendapat nama tersebut tidak memenuhi kaidah estetika. Kami sangat memahami hal itu: kepala sama berambut, kecerdasan beda.[4] Terlepas dari wacana yang berkembang, bagi kami dan beberapa sahabat yang mempunyai pengetahuan linuwih”, nama Air Langgar KFA adalah  nama yang sangat prestisius; megah; berwibawa.
            Goresan tinta ini mencoba mengelaborasi secara ilmiah atas historisitas dan makna luhur yang tersurat dan tersirat dalam nama jagoan kami. Selamat membaca. Semoga mencerahkan. Semoga menginspirasi.

Historisitas
            Jauh sebelum buah hati kami terlahir di bumi ini, kami telah berdiskusi  panjang terkait penamaan yang terbaik untuknya. Kami sadar penuh, nama adalah do’a, harapan, dan identitas. Nama dapat merfleksikan sifat, karakter, perilaku dan visi pemilinya. Oleh karena itu, logis jika Baginda Nabi Muhammad menganjurkan untuk memberikan nama terbaik bagi maulud (bayi yang baru terlahir).
            Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Darda’ ditegaskan:
إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم و أسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم .
Artinya:  “Sungguh kalian akan dipanggil di hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian, maka perbaguslah nama kalian.” H.R. Abu Dawud dari Abu Darda’. (Dha’if  al- Jami’; 2036).
Meskipun dalam kajian ilmu riwayah hadits ini dha’if, namun hemat kami, hadits ini tetap dapat dijadikan dasar untuk targhib (motivasi) dalam penamaan seorang anggota baru dalam keluarga (baca: bayi).
Selain hujjah tersebut, dalil untuk memberikan nama yang baik untuk anak juga dapat dirujukkan pada hadits shahih yang bersifat umum sebagai berikut:
إن الله تعالى كتب الإحسان على كل شيء .
Artinya: “Sungguh Allah Ta’ala mewajibkan memperbagus dalam segala sesuatu… H.R. Muslim dan Imam Empat.
Berdasarkan pertimbangan hukum di atas, kami tidak akan sembrono dalam menyematkan sebuah nama untuk putera kami. Untuk itu, kami harus “berijtihad” demi mendapatkan nama terbaik.
            Air langgar KFA, adalah sebuah nama final yang kami pilih. Redaksi Air Langgar terinspirasi dari statemen seorang alumni pesantren yang menjadi guru besar dan negarawan berpengaruh di negara ini, Prof. Dr. Mahfud MD. Beliau adalah Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Statemen itu muncul saat beberapa pihak dari Universitas Islam Indonesia dan Universitas Gadjahmada saling berebut klaim terkait universitas mana yang paling berhak diklaim sebagai almamater Prof. Dr. Mahfud MD. Tak heran, karena ketokohannya, kedua institusi tersebut saling berebut pengakuan sebagai tempat beliau menimba ilmu.
            Menanggapi polemik tersebut di atas, dengan tenang dan santai, Prof. Mahfud MD menjawab, “Saya adalah alumni Air Langgar”. Tentu semua pihak yang hadir di forum itu bertanya-tanya, Universitas mana Air Langgar itu? Beliau menjawab, “Air langgar adalah pesantren yang dikelilingi air nan jernih”.[5] Inilah embrio nama Air Langgar.
            Sedangkan KFA (Khalifatullah Fi Al-ardh), ide tersebut terlahir saat saya mengikuti ESQ (Emotional and Spiritual Quotion) 165 pada  DIKLAT II Program Pendidikan dan Pelatihan Calon Hakim Terpadu Republik Indonesia (2011). Teringat jelas, saat itu, seorang trainer melontarkan pertanyaan kepada saya: sebuah pertanyaan filosofis, “Siapa Anda?”. Setelah seolah ada bisikan lembut di telinga saya, spontan saya menjawab, “Khalifatullah Fi Al-Ardh”. Trainer tersebut kemudian mengangguk-membenarkan. Saya terkesan, entah atas apa, mungkin atas bisikan lembut itu. Hingga saya beri’tikad untuk mengabadikan Khalifatullah Fi al-Ardh sebagai sebuah nama.
Unsur Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan
            Nama adalah identitas jati diri. Oleh sebab itu, sedapat mungkin kami berupaya menuangkan identitas yang komperehensif dalam redaksi nama. Ada dua identitas pokok yang menyertai saat anak kami lahir: Islam dan Indonesia.
            Pertama: identitas Indonesia. Untuk menunjukkan identitas dalam konteks ke-Indonesiaan itu, kami memilih redaksi Air Langgar: terdiri dari dua kata yang berbahasa Indonesia. Hal tersebut kami maksudkan agar anak kami menghormati dan menjunjung tinggi kearifan lokal (local wisdom), memiliki nasionalisme tinggi, serta bangga menjadi Orang Indonesi (OI)—meminjam istilah Iwan Fals.
            Kedua: identitas Islam. KFA (Khalifatullah Fi Al-ardh) yang bermakna Khalifah Allah di bumi, terdiri dari bahasa Qur’an (baca: Arab), kata inilah yang merfleksikan identitas ke-Islaman. Harapan kami semoga identitas ini tetap melekat pada jiwa anak kami hingga akhir hayat.
Makna Air
            Air adalah sumber kehidupan. Semua teori tidak membantah adagium ini. Tak dapat dipungkiri, seluruh kehidupan di bumi ini dihidupkan oleh Allah dengan perantara air. Selanjutnya, untuk menjaga keberlangsungan kehidupan itu sendiri, Allah juga menggunakan washilah (media) air.[6] Artinya, air sangatlah dibutuhkan untuk penciptaan dan keberlangsungan kehidupan. Al-Qur’an dalam Surat al-Anbiya’ (30) menegaskan:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya: “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup, apakah mereka beriman? 
            Air (tirta) juga dugunakan sebagai satu diantara lima lambang hakim. Bahkan, lambang air diposisikan sebagai pondasi (dasar) dari keempat lambang lainnya. Hal tersebut dimaksudkan agar seluruh Hakim Indonesia berasas jiwa air. Air dalam konteks ini dimaknai sebagai kejujuran, kejernihan, dan sebagai media yang membersihkan (mensucikan).[7]
Dengan tabarruk (mengharap berkah) dari peran air bagi kehidupan ini, kami sangat berharap agar kelak anak kami laksana air: sangat dibutuhkan oleh kehidupan, jujur, jernih, dan “mensucikan”. Semoga.
Makna Langgar
Menurut definisi wikipedia, Langgar merupakan sebuah kota di Kedah, Malaysia. Kota tersebut terletak diantara Pokok Sena dan Bandar Alor Setar. Kota Langgar merupakan pusat pemerintahan Sultan Abdullah Muazam Syah (1706). Hal istimewa dari Kota Langgar adalah: ia merupakan pusat kajian Islam bersistem pondok [Pesantren] pertama di tanah Melayu. 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, langgar didefinisikan sebagai tempat sembahyang dan mengaji. Artinya, langgar adalah wahana peribadatan sekaligus keilmuan. Sungguh, ini adalah tempat yang mulia.
Langgar merupakan masjid kecil[8] atau juga sering diartikan sebagai mushola. Redaksi langgar dewasa ini (khususnya dalam di Jawa) sudah tidak sepopuler dulu. Saat ini orang lebih cenderung menggunakan istilah mushola.
Hemat kami, ada keistimewaan langgar dibanding tempat peridabatan lainnya. Langgar biasanya adalah sarana peribadatan yang dibangun pada tempo dulu, oleh salaf ash-shalih dengan bergotong-royong bersama umat, dengan penuh keikhlasan, lillahi ta’ala, dan jauh  dari unsur politis. Tidak seperti beberapa kasus saat ini, tempat peribadatan dibangun oleh politikus yang berorientasi mendulang suara rakyat demi elektabilitas Pemilu. Atau, ada juga yang membangun sarana peribadatan atas dasar persaingan gengsi antar aliran keagamaan, ataupun persaingan gengsi antar kampung. Na’uzubillah.
Dengan ngalap berkah nama Langgar, besar harapan kami agar jagoan kami kelak berjiwa langgar: tulus-ikhlas mengngabdi pada ilahi rabby. Inialah idealitas yang kami dambakan. Semoga.
Makna KFA (Khalifatullah Fi Al-Ardh)
            Gema peran manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah telah membahana sejak Allah menegaskan titah tersebut dalam al-Qur’an surat al-Baqarah (30):
 وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. “Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? “Dia berfirman, “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)
Visi Allah menciptakan manusia adalah untuk menjadikannya khalifah di muka bumi ini. Fungsi khalifah tidak lain adalah mengelola alam semesta dan memanfaatkannya demi kemashlahatan dan demi rahmatan lil ‘alamin. Pengelolaan ini sebagai kawal agar segala sesuatu yang telah diciptakan Allah tetap berada dalam koridor sunnatullah.
Ghayah (tujuan) kami dari penamaan KFA ini adalah supaya buah hati kami kelak benar-benar mampu menjalankan peran yang telah digariskan Allah sebagai khlifah-Nya di bumi ini. Kongkritnya: membumikan nilai Islam sebagai rahmat semesta alam. semoga.
Nama Panggilan (Laqab)
             Urusan inilah yang sempat membuat kami pusing tujuh keliling karena perdebatan panjang yang tak kunjung usai: pemilihan nama panggilan. Kami berusaha menyepakati satu nama panggilan untuk anak kami, namun tetap saja: tak ada kata mufakat.
            Akhirnya, mengingat Undang-Undang Dasar 1945, yang menjamin kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan dan sebagainya, maka kami putuskan: kami sepakat untuk tidak sepakat. Ahmad Z. Anam mendeklarasikan panggilan Air Langgar KFA dengan sebutan “Air”, sementara Arina H. bersikukuh mempertahankan panggilan “ALKA”. Ini lah perbedaan yang bernilai rahmat. Inilah keindahan.
            Tak seperti yang kami duga, ternyata di kalangan eksternal juga muncul berbagai varian panggilan untuk anak kami. Ada yang menyebut Anggar, Akla, Lang, Langgar, AL, dan lain sebagainya. Terima kasih atas sumbang-saran panggilannya.         
Penutup
Sederhana saja penutup dari artikel ini: semoga jagoan kami Air Langgar KFA menjadi pribadi yang berjiwa Air, berhati Langgar, dan berperan baik dalam menjalankan fungsinya sebagai  Khalifatullah fi Al-Ardh. Taqabblallah minna wa minkum. Amien.

Daftar Pustaka
Al-Qur’an.
Al-Maktabah Asy-Syamilah
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Masaru Emoto, The true Power of Water, (MQS Publising, 2006).  
MateriKode Etik dan Perilaku Hakim, Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI, 2012.



[1] Opini ini  ditulis untuk mendeskripsikan rasionalitas penamaan anak pertama kami: Air Langgar KFA, lahir pada hari Sabtu, tanggal 11 Mei 2013.
[2] Ayah dan Ibu Kandung Air Langgar KFA.
[3] Sepasaran dalam tradisi Masyarakat Jawa adalah kenduri dalam rangka tasyakuran lima hari (sepasar)pasca kelahiran, sekaligus pelaksanaan ritual tasmiyah (penamaan).
[4] Dalam pepatah Arab dikenal istilah likulli ra’sin ra’yun; setiap kepala memiliki pendapat (berbeda).
[6] Detail fungsi dan keajaiban air dibahas dalam buku Masaru Emoto, The true Power of Water, (MQS Publising, 2006).  
[7] Lambang hakim terdiri dari cakra, candra, sari, kartika, dan tirta (air). Baca: Materi Kode Etik dan Perilaku Hakim, Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI, 2012, hlm. 7
[8] Kamus Besar Bahasa indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar